, ,

Cabai Tembus Rp 90 Ribu Per Kg, Konsumen Sumbar Menjerit

by -1274 Views

Harga Cabai Merah Keriting di Sumbar Melonjak Tajam, Pemprov Lakukan Aksi Nyata dengan Datangkan Pasokan dari Jawa Tengah

Laporan Padang Panjang- Masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) kembali dibuat mengelus dada oleh meroketnya harga cabai merah keriting di pasaran. Dalam kurun waktu tiga pekan saja, harga komoditas yang menjadi bumbu utama masakan Minang ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Dari level Rp 59.000 per kilogram pada awal September 2025, harganya melesat hingga menyentuh angka Rp 90.000 per kilogram di pekan ketiga bulan tersebut. Lonjakan ini tentu saja memberatkan konsumen dan mengancam stabilitas harga pangan.

Cabai Tembus Rp 90 Ribu Per Kg, Konsumen Sumbar Menjerit
Cabai Tembus Rp 90 Ribu Per Kg, Konsumen Sumbar Menjerit

Baca Juga : Kerugian Capai Rp 501 Juta, Polisi Tangkap RY Terkait Dugaan Penipuan Berantai

Penyebab di Balik Meroketnya Harga

Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menjelaskan bahwa fenomena ini tidak terlepas dari menurunnya produksi cabai di lokal Sumbar. Selain itu, pasokan dari daerah lain yang biasanya menjadi penopang, seperti Aceh, Medan, dan Jawa, juga mengalami kekurangan. “Akibatnya, pasokan di pasar-pasar tradisional kita menjadi sangat terbatas, yang secara otomatis mendorong harga naik,” ujar Mahyeldi dalam keterangan resminya.

Gubernur menekankan bahwa fluktuasi harga cabai seperti ini bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, ketika harga di tingkat petani tinggi, beban ekonomi berpindah ke pundak konsumen. Sebaliknya, saat harga anjlok, petani lah yang paling dirugikan. “Hakikatnya, kita harus menjaga keseimbangan. Petani berhak mendapat harga yang layak untuk meningkatkan kesejahteraannya. Mengabaikan kepentingan petani sama saja dengan mengabaikan hak mereka untuk hidup layak. Namun, membiarkan harga di tingkat konsumen terlalu tinggi juga akan menggerus daya beli masyarakat,” jelasnya.

Langkah Konkret Stabilisasi Pasokan dan Harga

Merespons gejolak ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar tidak tinggal diam. Melalui kolaborasi strategis antara Dinas Pangan, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Wilayah Sumbar, Bulog Sumbar, dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD), dilakukanlah langkah stabilisasi melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).

Aksi nyata dari kolaborasi ini adalah kedatangan pasokan segar cabai merah keriting sebanyak 700 kilogram yang didatangkan langsung dari Magelang, Jawa Tengah. Program FDP ini bertujuan menjamin ketersediaan pangan di daerah yang mengalami kekurangan pasokan, sekaligus menjadi instrumen penting dalam pengendalian inflasi.

“Ketika suatu wilayah di Sumbar mengalami defisit pasokan, kami dapat menggerakkan FDP dengan mendatangkan komoditas dari wilayah surplus. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas harga dan memastikan akses masyarakat terhadap pangan tetap lancar,” papar Mahyeldi.

Sinergi Daerah untuk Ketahanan Pangan

Pengiriman cabai dari Magelang ini juga bukanlah tindakan insidental, melainkan implementasi nyata dari Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara Provinsi Sumbar dan Provinsi Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun sistem logistik pangan yang tangguh.

Mahyeldi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang terlibat, termasuk BI, Bulog, dan perbankan daerah. “Kolaborasi dan sinergi seperti inilah kunci untuk mewujudkan ketahanan pangan di Sumatera Barat. Kami optimis langkah ini akan membawa dampak positif,” tegasnya.

Pasokan cabai sebanyak 700 kg tersebut rencananya akan segera disalurkan kepada masyarakat melalui mekanisme Operasi Pasar. Dengan adanya operasi pasar ini, diharapkan masyarakat dapat membeli cabai merah keriting dengan harga yang lebih terjangkau di tengah tingginya harga di pasaran biasa. Langkah ini diharapkan dapat meredam kepanikan dan memberikan solusi sesaat sambil menunggu pemulihan pasokan dari daerah lain dan peningkatan produksi lokal.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.